Mawar Layu
Duhai juita kesuma, wahai puspa bangsa
Siapa gerangan yang menumpahkan genangan air mata dalam kolam kalbumu?
“Penerus bangsa,” tuturmu.
Dan aku melihat sekitar,
Melihat Ibu Pertiwi dicengkram tangan para durjana
Menyaksikan alunan nada bangsa digadaikan
dengan lidah yang lebih lentur mengurai bahasa asing
Menonton etnis saling menjatuhkan
Bagai balam dalam sangkar duri, dipagari adat dan pergaulan
Awan di hatimu tak kunjung sirna, kian hari kian masygul
Tangisan mereka yang tumpah darahnya bagi Indonesia kian banyak
Satu tetes, dua tetes, tiga tetes.
“Dimanakah mawar yang saya perjuangkan?” tanya mereka
Mawar yang menyatukan negri kepulauan ini?
Berbekal sejumput diksi kucoba mencari mawar itu
Dimana suara generasi muda yang bersumpah untuk menjaga mawar persatuan itu?
Rupanya hanya sebatas janji
Adakah artinya diucapkan tiap tahun?
Akhirnya kusadari,
Mawar tersebut telah layu.
Akankah bisa bangkit kembali?
Berpisah
Pernahkah kau bertanya tentang apa yang kurasakan?
Tentu tidak
Kenyataanya yang kau pikirkan memang bukanlah aku.
Bagimu mungkin, aku hanya seperti embun kecil di atas daun maple
Kanan-kiri, tak akan pernah seimbang
Cemburu dan sayang, tak pernah menentu
Kau tahu, bagaimana rasanya terluka? tersakiti?
Semuanya telah kurasakan karena satu sebab
Lagi,
Aku akan bertanya, apakah yang ada dipikiranmu hanya dia?
Kumohon, hentikanlah sandiwaramu ini
Aku tak akan bisa bertahan dengan semuanya, jika terus berlanjut
Kau tak akan pernah sadar
Maka kali ini, akulah yang akan keluar dari sandiwaramu
Aku, dan kau lebih baik memang begini
Kita berpisah, ya?
No comments:
Post a Comment